Di Anyer Sepi Pengunjung Pasca-Tsunami pengelola pantai mengeluh

Serang, – Pengelola objek wisata pantai di Anyer dan juga para pedagang mengeluhkan sepinya pengunjung atau wisatawan ke Pantai Anyer pasca terjadinya tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12) lalu.

”Biasanya rata-rata hari biasa itu 15 sampai 20 kendaraan yang datang berkunjung. Apalagi kalau hari libur, bisa penuh. Sekarang ini paling ada satu atau dua kendaraan, itupun kadang tidak lama,” kata Ahmad salah seorang pengelola objek wisata pantai untuk umum di Anyer, Sabtu (12/1).

Menurut dia, pasca terjadinya tsunami tersebut para pengelola pantai mengeluh termasuk para pedagang karena tidak ada wisatawan yang berkunjung. Padahal, pihaknya sudah mengeluarkan kebijakan pemotongan harga tiket masuk kendaraan ke objek pantai tersebut.

“Biasanya kan satu kendaraan masuk ke sini tiketnya Rp75 ribu, sekarang turun menjadi Rp50 ribu. Tapi yah begitulah, paling ada juga yang cuman lihat-lihat sebentar, balik lagi,” kata dia.

Keluhan yang sama juga disampaikan Kurdi, salah seorang pedagang yang ada di objek wisata tersebut. Ia mengeluhkan pendapatan dari jualan kopi, mie rebus serta jajanan yang ada di warung tersebut pasca tsunami.

”Kalau sebelum kejadian itu bisa sampai Rp500 ribu per hari. Sekarang ini dapat Rp5.000 aja sudah untung. Malah yang ada pada diutang pekerja di sini,” kata dia.

Pihaknya berharap kepada pemerintah untuk segera memulihkan kondisi wisata Anyer agar tidak terlalu lama terdampaknya, mengingat perekonomian warga sekitar sangat tergantung dari kunjungan wisatawan ke pantai tersebut.

“Padahal waktu kejadian tsunami kemarin, Anyer itu tidak terkena. Ini karena imbasnya aja,” kata Kurdi.

Kepala Dinas Pariwisata Banten, Eneng Nurcahyati mengatakan, saat ini pihaknya bersama dengan Kementerian Pariwisata terus melakukan pemulihan wisata didaerah terdampak Tsunami Selat Sunda dan wilayah yang tak berdampak.

“Dari wilayah terdampak seperti Carita, Labuan, Tanjung Lesung dan Sumur di Pandeglang, saat ini kita sudah bergerak, memulai dengan Rakor semacam ini. Kami juga melakukan upaya di daerah tidak terdampak seperti Anyer ini, karena wisata Anyer walaupun tidak terdampak secara langsung. Tapi imbas ekonomi wisatanya luar biasa. Semuanya kena, hotel sepi pelaku usaha kecil juga menjerit,” kata Eneng.

Tak hanya melakukan upaya pemulihan pariwisata dan ekonomi, pihaknya juga bersama PHRI Banten dan industri terus berupaya agar masyarakat bangkit kembali.

“Trauma healing kita lakukan bersama-sama steakholder. Dan kita akan lakukan pertemuan dengan pemilik hotel untuk menyelesaikan pendataan. Sekarang sedang berjalan, melakukan pencatatan by name by adress,” kata Eneng. (Ant)