Wamenag: Disertasi dan PR Kementrian Keagamaan dalam Membendung Radikalisme

Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin

Kamis (5/8/21) Drs. H. Zainut Tauhid Sa’adi (Wakil Menteri Agama RI) melangsungkan sidang promosi doktoralnya di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah.

Sidang yang berlangsung secara daring tersebut dihadiri kurang lebih 360 partisipan, termasuk dari beberapa pejabat pemerintahan serta pemimpian PTKIN di beberapa daerah.

“Jumlah tersebut merupakan jumlah partisipan terbanyak dalam sidang doctoral,” ungkap Profesor Suparta selaku salah satu penguji.

Selalin Profesor Suparta, beberapa guru besar lain yang juga menguji adalah Profesor Asep Saepudin Jahar (Ketua Penguji), Profesor Zulkifli, Profesor Dindin Saepudin, Profesor Amany Lubis dan Profesor Masykuri yang juga merangkap pembimbing riset  dan penulisan disertasi Wamenag.

Banyak pujian serta saran dari para penguji untuk Wamenag dalam disertasinya yang berjudul Kontestasi Ideologi Politik Gerakan Islam di Ruang Publik Digital. “Penelitian ini sangat menarik, kontemporer dan tengah digandrungi,” puji Profesor Dindin Saepudin.

Pada penelitiannya, Drs. Zainut Tauhid Sa’adi menjelakan bahwa ruang publik digital telah memfasilitasi gerakan Islamis  untuk memproduksi wacana ideolgi politik alternatif.

Meskipun pemerintah telah membatasi struktur peluang politik, nyatanya hal tersebut tidak menghalangi mereka (organisasi Islam nonafiliasi) untuk memengaruhi persepsi dan opini publik di ruang digital.

Kelompok Islam arus utama seperti NU dan Muhammadiyah mengambil peran pada wilayah yang tidak terjangkau pemerintah dalam mengambil narasi radikal yang dihembuskan oleh kelompok Islamis dengan terus mempertahankan Pancasila dan NKRI sebagai hasil konsensus bersama.

Berdasarkan hasil penelitianya, Wamenag mengungkan bahwa gerakan Islamis dalam dunia digital lebih diganduringi karena mereka memanfaatkan internet dan media sosial secara kreatif dan produktif. Mereka membingkai wacana ideologis dalam bentuk teks, gambar, audio-visual, dan sebagianya untuk memengaruhi persepsi publik dan mendorong umat Islam untuk berpatisipasi dalam aksi kolektif.

Tak mau kalah, NU dan Muhammadiyah sebagai kelompok organissi Islam arus utama juga hadir secara kreatif dan produktif dalam melakukan pembingkaian tandingan di ruang publik untuk narasi radikal dan anti-sistem. Akan tetapi, belum ditemukan aksi gabungan NU dan Muhammadiyah dalam dunia digital untuk melawan gerakan Islamis.

Hasil penelitian tersebut, sekaligus menjadi Pekerjaan Rumah bagi Kementrian Agama termasuk Wamenag untuk memperkuat program moderasi beragama dalam membendung dominasi  gerakan-gerakan radikal yang mengancam NKRI.

Kemenag perlu mencatak duta moderasi beragama di ruang publik digital yang melibatkan ulama tradisional, kaum santri atau mahasiswa jurusan keagamaan di lingkup PTKI.

Pemerintah perlu mengakji perkembangan keagamaan dan kebangga yang dibingkai oleh aktor-aktr individual , baik ustadz, dai, mubaligh, kyai, influencer, dan sebagainya , termasuk individu-individu yang belakangan mengkampanyekan gerakan hijrah.

Penulis: Hanum Ulfah Nurbaiti

Editor: Dedy