Mencegah Intoleran dan Kekerasan: Hal penting yang harus di lakukan mahasiswa

kegiatan diskusi intoleran dan kekerasan/ doc. WartaDaerahBanten.

Diskusi publik yang dilakukan secara langsung di Syahida Inn UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengusung tema Peran Mahasiswa Perguruan Tinggi Islam dalam Mencegah Intoleran dan Kekerasan, kegiatan ini dilakukan pada hari Minggu, 11/04/2021. Diskusi disiarkan langsung melalui media YouTube dan mengundang peserta melalui aplikasi Zoom Meetings.

Acara ini diselenggarakan oleh DEMA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sambutan demi sambutan dilakukan, sambutan pertama dilakukan oleh Presiden DEMA FITK Haikal Ramadhan, kemudian Robi Sugara (Derektur IMCC), Irjen. Pol. Drs. Anang Revandoko (Dankor Brimob Polri), Dr. Khalimi, M. Ag. (Wadek III Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama), Dr. Sururin, M. Ag. (Dekan FITK), dan di hadiri oleh Ibu Rektor UIN Syarif HIdayatullah Jakarta, Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, Lc., M.A.

Hilangnya rasa empati kepada orang-orang atau kelompok lain yang berasal dari kelompok, golongan atau latar belakang yang berbeda merupakan sikap intoleran yang harus kira hindari sebagai warga masyarakat Indonesia.

Intoleransi sangat bertentangan dengan pancasila, intoleransi dapat diwujudkan tidak hanya dalam bentuk pendangan atau pemikiran, tetapi juga tindakan. Kontestasi Politik, ceramah yang bermuatan ujaran kebencian, dan unggahan bermuatan kebencian di media sosial.

Meningkatnya sikap intoleransi berakibat kepada tindakan merusak atau berdampak kepada kelompok lainnya di tengah kehidupan bermasyakarat di Indonesia.

Sedangkan kekerasan adalah penganiayaan, penyiksaan, atau perlakuan salah. Kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan trauma.

Pemateri pertama disampaikan oleh Hanifah Haris, Program Manager The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia, dan pemateri kedua disampaikan oleh Febri Ramdani, penulis buku 30 hari di bumi syam. Intoleran dan kekerasan adalah hal yang harus kita hindari, semua hal tersebut bukannya membawa kita ke hal positif, melainkan ke hal negatif, kebencian, rasa tidak peduli, hingga kekerasan, hal tersebut harus kita jauhi sejauh-jauhnya.

Presiden DEMA FITK, Haikal Ramadhan menggagas webinar perihal intoleran dan kekerasan, hal ini bertujuan untuk mecegah perihal intoleransi dan kekerasan pada mahasiswa, terkhusus kepada mahasiswa islam yang ada di Indonesia.

“Mahasiswa diharapkan untuk memahami sikap intoleransi dan kekerasan, menjauhkan mahasiswa islam dalam hal radikalisasi karena umur mahasiswa yang rentan akan intoleransi dan kekerasan hal ini yang menjadi semangat bagi kami dema fitk dalam mencegah tindakan intoleransi dan kekerasan pada mahasiswa islam Indonesia,” ucapnya.

Masih banyaknya manusia yang tidak peduli dengan manusia lain, acuh tak acuh, bahkan benci kepada ras lain, kekerasan dimana-mana, sebagai mahasiswa kita harus mememahami perihal intoleran dan kekerasan ini.

“Mahasiswa diharapkan tidak untuk mendekatkan dirinya pada kekerasan yang selalu terjadi dan kita menginginkan untuk mahasiswa bertoleransi satu sama lain tanpa membeda-bedakan ras suku dan lainnya,” ujarnya.

Sebagai mahasiswa kita harus berfikir cerdas, menjauhkan pemikiran-pemikiran yang mendekatkan diri dengan intoleran dan kekerasan.

“Hal penting menurut saya dalam diskusi ini adalah menjauhkan pemikiran pemikiran mahasiswa islam dalam kekerasan dan intoleransi. Karena pemikiran persoalan ini akan menimbulkan pemikiran yang radikal dan memunculkan kekerasan antar mahasiswa,” tutup Presiden DEMA FITK, Haikal Ramadhan. [dey]