Tiga Alasan Memilih Caleg Milenial

Ngapain sih milih caleg milenial? Mereka ini kan masih hijau. Masih anak bawang. Nggak tahu apa-apa. Sebagian juga nyaleg karena dukungan orang tua atau kerabat yang juga politisi senior. Sama saja mendukung nepotisme. 

Itulah sebagian pendapat orang ketika menanggapi kemunculan para caleg milenial di Pemilu 2019 ini. 

Persentase caleg milenial

Menurut Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), daftar caleg sementara (DCS) Pemilu Legislatif 2019 memuat 21 persen caleg DPR berusia milenial.

“Mayoritas caleg berusia produktif, yaitu 36-59 tahun atau 68 persen, ditambah kelompok usia milenial berusia 21-35 tahun sebanyak 21 persen,” kata peneliti Formappi Lucius Karus di kantornya, Matraman, Jakarta Timur, Jumat (14/9/2018).

3 alasan memilih caleg milenial

Pertama, caleg milenial paling paham dunia anak muda

Berdasarkan riset KedaiKOPI yang diolah dari data Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok milenial merupakan pemilih terbesar. Persentase kelompok milenial yang punya hak suara sebesar 37,7 persen pada Pemilu 2019. Nah, pemilih muda dengan persentase sebesar ini sebaiknya memilih siapa?

Caleg dari kalangan milenial tentu lebih paham dunia anak muda. Masalah pendidikan kaum muda, lapangan pekerjaan, startup, unicorn yang onlineonline, jual-beli daring, jasa daring, tren medsos tentu lebih dipahami caleg milenial dibanding caleg zaman old

Ini jadi salah satu alasan mengapa kaum pemilih milenial pantas memilih caleg milenial. 

Kedua, caleg milenial bebas dosa politik masa lalu

Caleg milenial adalah generasi baru calon politisi Indonesia. Mereka tak terlibat korupsi, kolusi, dan nepotisme yang marak, antara lain, di masa Orde Baru. 

Hanya saja, harus diakui, sebagian caleg milenial mungkin saja didorong untuk mencalonkan diri oleh orang tua atau kerabat yang sudah lebih dulu terjun ke dunia politik. Tidak ada yang salah dengan hal ini sepanjang maksudnya mulia. Namun, kalau pencalonan caleg milenial ini ditujukan untuk melanggengkan nepotisme dan kuasa korup keluarga, tentu ini bukan hal terpuji.

Ketiga, caleg milenial lebih enerjik 

Caleg milenial lebih enerjik dibandingkan caleg zaman old. Tengok saja kiprah sejumlah besar caleg milenial yang turun ke daerah-daerah, bertemu langsung dengan calon pemilih. Beda sekali dengan mayoritas caleg zaman old yang lebih mengandalkan baliho, nama besar, dan mesin politik partai untuk meraih suara. (Red)